SELAMAT DATANG

Assalamu'alaikum, Selamat datang di blog kami :)

Senin, 18 April 2011

SABAR MENGHADAPI BALA DAN KESUKARAN

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Yazid Arraqqasyi berkata: "Jika seorang masuk dalam kubur, maka sembahyangnya berdiri disebelah kanan dan zakat disebelah kirinya, dan taat manaunginya dan sabar membela kepadanya, bahkan ia berkata kepada lain-lainnya: "Silakan kamu bela dia jika kamu dapat membelanya, kalau tidak saya yang dibelakangny...a (yakni saya sanggup menyelesaikan dan menolak siksa daripadanya)."

Dari keterangan ini nyata bahawa sabar itu seutama-utama amal, bahkan Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Innama yuwaffas shabirun ajrahum bighairi hisaab." (Yang bermaksud): "Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan pahala mereka tanpa hitungan."

Abu Warrad dari Muhammad bin Muslim berkata: "Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: "Ya Rasulullah, habis hartaku dan sakit badanku." Maka dijawab oleh Nabi Muhammad s.a.w. "Tidak baik seorang hamba yang tidak habis hartanya dan tidak sakit badannya, sesungguhnya Allah (s.w.t.) jika cinta kepada hamba maka diujinya dengan bala dan bila telah ditimpa bala maka (Allah s.w.t.) memberikannya kesabaran."

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: " Tiap orang yang dipenjara oleh raja dengan penganiayaan sehingga mati dalam penjara, maka ia mati syahid dan bila ia dipukul sehingga mati maka ia mati syahid."

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya adakalanya Allah s.w.t. telah menyediakan suatu darjat bagi seseorang, tetapi tidak dapat dicapai dengan amalannya, sehingga diuji dengan bala yang menimpa pada jasmaninya maka tercapailah dengan itu."

Diriwayatkan bahawa ketika turun ayat (Yang berbunyi): "Man ya'mal suu'an yujza bihi." (Yang bermaksud): "Siapa yang berbuat dosa pasti dibalas menurut dosa itu." Abu Bakar r.a. berkata: "Ya Rasulullah, bagaimana akan dapat bergembira setelah ayat ini?" Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Semoga Allah (s.w.t.) mengampunkan bagimu, hai Abu Bakar. Hai Abu Bakar, tidakkah kau sakit, tidakkah engkau menderita gangguan, tidakkah kau lelah, tidakkah kau berduka cita, maka itu semua dari apa yang akan dibalas (semua yang terkena padamu itu sebagai penebus dosa-dosamu)."

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "Ketika ayat ini turun maka Nabi Muhammad s.a.w. keluar dan bersabda: "Telah turun kepadaku ayat yang bagi ummatku lebih baik dari mendapat dunia seisinya." Lalu Nabi Muhammad s.a.w. membaca ayat tersebut (Yang berbunyi): "Man ya'mal suu'an yujza bihi." (Yang bermaksud): "Siapa yang berbuat dosa pasti dibalas menurut dosa itu." Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, lalu menderita bala dunia, maka Allah (s.w.t.) tidak akan menyiksanya kedua kali (kemurahan Allah s.w.t. tidak akan menyiksa hambaNya dua kali)."

kata-kata

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Sedikit keterangan tentang Ukhuwah dan Toleransi Dalam beragama.

Mari kita sama2 perhatikan Dalil-dalil di bawa ini :
...
Suatu ketika Asma binti Abu Bakar didatangi ibunya, Qotilah, yang masih kafir. Ia pun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Bolehkah saya berbuat baik kepadanya?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Boleh".
Kemudian turun-lah ayat ke 8 Surat Al-Muntahinah. Ayat itu menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak melarang berbuat baik kepada orang yang tidak memusuhi agama Allah. Demikian yang diterangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV hal 349.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qotilah (bekas isteri Abu Bakar) yang telah diceraikannya pada zaman jahiliyah, datang kepada anaknya yang bernama Asma binti Abu Bakar, membawa hadiah, Asma menolak pemberian itu bahkan tidak memperkenankan ibunya masuk ke dalam rumah.,Setelah itu ia mengutus seseorang kepada Aisyah (saudaranya) untuk bertanya tentang hal ini kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sal-lam. Maka Rasul pun memerintahkan untuk menerimanya dengan baik serta menerima pula hadiahnya. (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Al-Hakim dari Abdullah bin Zubair)

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, dapat kita pahami bahwa Islam menghargai sikap atau keyakinan orang-orang di luar Islam. Dan Allah Subhanahu wa ta'ala pun tidak melarang kita berbuat baik kepada mereka yang tidak memusuhi Islam. Hal inilah yang kita sebut dengan toleransi.

Pengertian Toleransi.
Toleran mengandung pengertian: bersikap mendiamkan. Adapun toleransi adalah suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya. (Drs Sulchan Yasin, dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal 389)

Indrawan WS. menjelaskan pengertian toleran adalah menghargai pahaman yang berbeda dari pahaman yang dipegangi atau dianutnya sendiri.

Dalam bahasa Arab toleransi biasa disebut "ikhtimal, tasamuh" yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha - yasmuhu - samhan, wasimaahan, wasamaahatan, artinya: murah hati, suka berderma) (kamus Al Muna-wir hal 702).

Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai, dengan sabar menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok tertentu.

Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan Talbisul haq bil bathil, (FA. QS AL-Baqarah 42) Dan janganlah kamu mencampur-adukkan antara hak dan batil dan janganlah kamu menyembunyikan kbenaran itu sedang kamu mengetahui

Suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan oleh seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretis yang dilarang keras oleh Agama Islam.

Harus kita bedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalah membenarkan semua keyakinan/agama.so tolong di fahami betul betul semua agama itu benar bagi pengikutnya masing-masing..

Sinkretisme mengandung talbisul haq bil bathil (mencampurkan yang haq dengan yang bathil)

Sedangkan toleransi tetap memegang prinsip al-furqon bainal haq wal bathil (memilah/memisahkan antara haq dan bathil).

Kalau kita orang Islam tidak boleh Yakini semua agama benar, itu yg teramat di larang oleh Islam karena termasuk dalam kategori Syirik..

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran: 19)

Allah SWT ber Firman QS.Ali-Imran :85
“Barangsiapa mencari agama selain Islam maka tiadalah agama itu dari padanya,sedang dia di akhirat termasuk golongan org2 yang merugi..

Nabi Muhammad SAW. “Saat Rasulullah diutus sudah ada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kaum musyrik Arab. Tapi Nabi Rasulullah menyeru mereka semua agar kembali kepada satu prinsip yang sama (Kalimatin Sawa’), yaitu prinsip Tauhid hanya menyembah Allah semata,”
Silah Rujuk Firman Allah di dalamAl-Qur’an
surat Ali Imran 64,.. Maryam 88-91,.. Al-Ma’idah 73, dan Ash-Shaff:6).

Adapun yg dinamakan toleransi umat beragama hanya sebatas saling menghargai, menghormati bukan mengimani apa yg mereka yakini,, kita memiliki keyakinan sendiri sebagai umat Islam..kita boleh toleran tapi tidak boleh yakini.

Jadi jangan mengaggap semua agama benar. Kita harus tetap meyakini hanya Islam itu yang benar tanpa harus menafikan keyakinan org lain.

Mari sama2 kita merenungkan dan SELAMAT BERAMAL...WASSALAM..

4 GOLONGAN LELAKI YANG DITARIK OLEH PEREMPUAN KE NERAKA.

Pertama:- Ayahnya
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat..... tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja maka dia akan ditarik oleh anaknya.

Kedua:- Suaminya
Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram, apabila suami mendiam diri.. walaupun dia seorang alim (solat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka dia akan ditarik oleh isterinya.

Ketiga:- Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke pula abang-abangnya. jikalau mereka hanya mementing keluarganya sahaja dan adik perempuannya dibiar melencong dari ajaran ISLAM.... tunggulah tarikan adiknya di akhirat.

Keempat:- Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan disoal dan dipertangungjawabkan di akhirat kelak ......
nantikan tarikan ibunya, Maka kita lihat bertapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah di akhirat pun tarikannya begitu hebat. maka kaum lelaki yang bergelar ayah / suami / abang atau anak harus memainkan peranan mereka yang sebenar tidak silap firman ALLAH S.W.T.: "HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA, DIMANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA DAN BATU-BATU....."

Hai wanita, kasihankan ayah anda, suami anda, abang-abang anda serta anak-anak lelaki anda...kesiankanlah mereka dan diri kamu sendiri. jalankan perintah ALLAH S.W.T. dengan bersungguh-sungguh dan dengan ikhlas..

Akhir kata, marilah kita berdoa agar kita semua terselamat dari ditarik dan tertarik oleh mana-mana pihak ?????
Harga seseorang muslim adalah sangat berharga. ALLAH S.W.T. nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA... semua kaum muslim masuk syurga. janganlah kita membuang atau tidak mengendah janji ALLAH S.W.T.

Meninggalkan Anak Istri untuk Perjuangan Agama

Dari Ummu Sulaiman ra., bahwa Nabi SAW. berkata kepadanya, “Bersabarlah engkau! Demi Allah! Sejak tujuh hari ini keluarga Rasulullah SAW. tidak mempunyai sesuatu pun untuk di makan, dan sudah tiga hari api tidak di nyalakan di bawah panci mereka. Demi Allah! Seandainya aku meminta kepada Allah agar bukit-bukit Tihamah dijadikan emas, pastilah ...Allah akan mengabulkannya.”

Dengan riwayat-riwayat ini, apakah dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW. telah sengaja menzhalimi keluarganya, karena sibuk dalam berdakwah sehingga menyebabkan keluarga beliau sendiri kelaparan hingga berbulan-bulan? Na’udzubillah min dzalik!

Anak dan istri berpisah sementara untuk kepentingan agama tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagian istri-istri nabi pun mengalaminya. Misalnya, Siti Hajar istri Ibrahim as. yang ditinggalkan sendirian hanya bersama bayinya di tengah gurun pasir gersang tanpa ada perbekalan yang mencukupi, semata-mata demi membantu tugas dakwah dan perjuangan agama suaminya.

“(Ibrahim berkata), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan di dekat rumah-Mu yang dihormati.” (QS. Ibrahim 37)

Ibrahim as. tidak meninggalkan keluarganya untuk tiga hari, empat puluh hari atau empat puluh bulan, tetapi beliau telah meninggalkan keluarganya 13 tahun!

Dan ternyata, setelah diuji dengan harus meninggalkan anak dan istrinya selama bertahun-tahun, demi menunaikan tugas dakwah dan menyeru manusia kepada agama, justru lahir dari keturunan Ibrahim as., nabi-nabi dan rasul-rasul Allah. Apakah kita akan katakan bahwa Ibrahim as. adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya dan menyia-nyiakannya?

Bagitu juga istri Nabi Musa as. yang ditinggalkan oleh Musa as. sendirian di tengah hutan untuk berdakwah kepada Fir’aun.

Allah SWT berfirman, “Ketika ia (Musa as.) melihat api, lalu ia berkatalah kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api. Semoga aku dapat membawa sedikit dengannya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk.” (QS. Thaahaa 10)
Pada ayat selanjutnya Musa as. diperintah, “Pergilah kepada Fir’aun sesungguhnya ia telah melampaui batas.”

Lalu apakah Nabi Musa as. juga di tuduh telah menzhalimi keluarganya dan menyia-nyiakannya, karena telah meninggalkan istrinya di tengah hutan belantara semata-mata karena ia telah diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun selama 40 hari ?

Selain para Anbiya, keluarga para sahabat ra. juga telah berbuat demikian, sebagaimana banyak tertulis di dalam kitab-kitab, salah satu misalnya, adalah kisah hijrahnya Abu Bakkar ra. ke Madinah.

Asma’ binti Abu Bakar ra. meriwayatkan, “Ketika Rasulullah saw. keluar untuk hijrah, Abu Bakar ra. pun ikut keluar berhijrah bersama beliau. Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 5000 atau 6000 dirham. Dia pun pergi dengan membawa seluruhnya. Kemudian datanglah kakek kami; yaitu Abu Quhafah ra.. Ia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar itu pasti telah menyusahkan kalian dengan harta dan dirinya.” Aku berkata, “Sama sekali tidak! Wahai kakek, sesungguhnya ia telah meninggalkan banyak harta.” Maka aku ambil kerikil-kerikil dan kuletakkan di tempat yang biasa ayahku menyimpan hartanya di lubang di rumahnya. Lalu kututup dengan kain, dan kutuntun tangan kakekku, dan berkata, “Ulurkan tanganmu ke sini, kek. “Dia berkata, “Kalau begini tidak masalah. Sungguh dia telah meninggalkan ini untuk kalian. Dia sudah berbuat baik.”

Umar bin Khattab ra. berkata, Rasulullah SAW. menyuruh kami bersedekah. Ini bertepatan dengan harta yang ada padaku. Aku berkata, “Jika suatu hari aku akan menang di atasnya.” Lalu aku datang dengan setengah hartaku, lalu Rasulullah SAW. bertanya, “Sepertiga.” Lalu datang Abu Bakar ra. membawa seluruh harta yang ada padanya. Maka Rasulullah SAW. bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk ahli keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Berkata Umar, “Aku memang tidak akan menang di atas Abu Bakar sedikit pun selamanya.”

Apakah Abu Bakar ra. divonis oleh Nabi SAW.  sebagai suami dan ayah yang dzhalim kepada keluarganya, karena ia tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya ketika berhijrah bersama Rasulullah SAW.? Bahkan justru Rasulullah SAW. Tidak mengingkari pengorbanan Abu Bakar As-Shiddiq ra. Yang menyerahkan seluruh hartanya karena beliau mengetahui kebenaran niatnya.

Tindakan Abu Bakar ra. Tidaklah menyalahi firman Allah Al-Baqarah, ayat; 219, (Allah SWT berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”) karena Allah mengakui pengorbanan yang dilakukan oleh seseorang demi agama dan umat.
Juga seperti sahabat Anas bin Malik ra. Ia memiliki anak yang sulit di hitung karena banyaknya. Ia pernah berkata, “Cucu-cucuku itu mempunyai hitungan tersendiri. Tetapi aku sendiri telah menguburkan 125 anak dari keturunanku. Selain itu, yang masih hidup pun banyak sekali.” Walaupun demikian banyak tanggung jawab keluarga, terhadap istri dan anak-anaknya, ia terkenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan sering menyertai jihad fisabilillah.

Demikian juga, Zubair bin Awwam ra. yang pada waktu mati syahidnya, ia meninggalkan sembilan orang anak laki-laki, sembilan anak perempuan, dan empat orang istri. Bahkan ada sebagian  dari cucunya yang lebih tua daripada anak-anaknya sendiri.
Meskipun demikian, ia merupakan salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist. Ia juga ikut serta dalam banyak peperangan. Sekalipun mempunyai banyak tanggungan keluarga, namun anak-anak dan istrinya itu tidak menghalanginya dari kesibukan memperjuangkan agama Allah.

Di dalam kisah lain, diriwayatkan Sa’ad bin Khaitsamah ra. bercerita, “Aku tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Yang ke Tabuk. Aku pun kembali ke rumah. Di sana kudapati istriku sedang menyiram rumah dengan air (agar menjadi sejuk), maka kukatakan kepada istriku, “Sungguh tidak adil kalau aku masuk rumah dan beristirahat di tempat yang teduh, sedangkan pada saat ini Rasulullah SAW. Sedang berada di tempat yang sangat panas.” Maka segera kusiapkan kantong dan bekalku. Melihat hal itu, istriku berteriak, “Abu Khaitsamah! Hendak kemana engkau?” Kujawab, “Menyusul Nabi SAW. Ke Tabuk.” Setelah itu aku keluar, dan di tengah perjalanan, aku bertemu Umar bin Wahab, lalu aku berkata kepadanya, “Sungguh kamu ini seorang pemberani. Aku ingin tahu di mana Nabi SAW berada. Dan sungguh aku merasa berdosa. Karena itu berjalanlah di belakangku agar dapat kutemui Nabi SAW. empat mata.” Umar pun berjalan mengikuti dari belakang. Ketika aku mendekati pasukan itu, maka orang-orang melihatku dari jauh dan berkata, “Ada seseorang mengendarai kuda ke arah kita!” Rasulullah SAW. berkata, “Ya Rasulullah, celaka aku!” Kemudian kuceritakan kisah perjalananku, maka Rasulullah SAW. mendoakan kebaikan untukku.”

Abu Naufal bin Abi ‘Aqrab menceritakan, “Ketika Harits bin Hisyam akan berangkat dari Makkah menuju ke Syam, maka seluruh penduduk Makkah sangat merisaukan kepergiannya. Semua orang kecuali anak-anak yang masih menyusui mengantar kepergiannya ke luar kota Makkah. Ketika sampai di bukit Bath-ha atau dekat tempat itu, maka dia berhenti, dan orang-orang merasa bersedih, maka dia berkata, “Wahai kaumku! Demi Allah, sesungguhnya aku pergi bukan karena lebih menyayangi diriku dari pada diri kalian, juga bukan karena aku lebih memilih kota lain dari pada kota kalian. Tetapi aku pergi karena memenuhi perintah agama untuk berjihad di jalan Allah, dan hingga saat ini telah banyak kaum Quraisy yang telah mendahului aku pergi padahal mereka bukan termasuk pemuka atau pun dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Keadaan kita sekarang ini, demi Allah! Sesungguhnya kita mengorbankan emas di jalan Allah sebanyak gunung-gunung di kota Makkah, niscaya kita tidak akan melebihi pahala satu hari mereka di jalan Allah. Demi Allah! Seandainya mereka mendahului kita di dunia, maka sekurang-kurangnya kita dapat menyamai mereka di akhirat. Sebaiknya orang yang beramal merasa takut kepada Allah dengan amalnya.” Setelah itu diapun berangkat menuju ke Syam, dan dia juga membawa kerabatnya untuk ikut serta dan ia tetap tinggal di sana hingga mati syahid, sehingga Allah merahmatinya.”

Semua kisah di atas dengan tegas menunjukkan bahwa meninggalkan keluarga untuk sementara demi kepentingan agama. Namun penerapannya bagi kita perlu dilakukan dengan sebijak dan sehikmah mungkin, sehingga maksud untuk menyebarkan agama menjadi terwujud dengan baik

Jamaah Tabligh Anti Ilmu Dan Ulama

Tuduhan seperti ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan jamaah tabligh yang sebenarnya. Sebab ilmu termasuk dalam rangkaian enam sifat yang menjadi kurikulum inti pembinaan jamaah tabligh. Di dalam enam sifat tersebut, ilmu adalah materi yang ketiga. Dan seluruh kurikulum enam sifat tersebut, senantiasa diulang–ulang dan di usahakan untu...k diterapkan ke dalam kehidupan sehari–hari.

Bukankah di dalam program jamaah tabligh terdapat program majelis ilmu (4 jam untuk taklim), yang dibaca setiap hari ketika mereka sedang khuruj ataupun ketika mereka sedang ditempatan mesjid sendiri selama 30 menit di rumah mereka masing–masing 30 menit.

Sesungguhnya di kalangan Jamaah Tabligh, tidak sedikit alim ulama yang ikut bergerak di dalamnya. Jika dihitung jumlahnya, memang masih jauh dari jumlah orang–orang awamnya. Namun dari keberadaan mereka sudah cukup untuk menjadi pengendali usaha dakwah ini disetiap daerah.

Para Masyaikh Tabligh sendiri adalah para ulama yang sangat diakui keulamaannya. Tidak hanya dalam bidang keilmuan saja, bahkan hampir setiap mereka adalah tokoh dalam empat hal;
  1. Dalam bidang dakwah, mereka adalah para ulama sekaligus da’i – da’i yang tidak diragukan lagi perjuangan dan pengorbanan mereka dalam mendakwahi umat.
  2. Dalam bidang keilmuan, mereka adalah para ustadz, yang disela – sela kesibukkan dakwahnya, mereka tetap meluangkan waktu untuk mengajar di pesantren mereka. Seperti para Masyaikh India, sebagian besar mereka adalah para pengajar di Pesantren Kasyiful Ulum Nizhamuddin Delhi, ataupun di Darul Ulum Saharanpur.
  3. Dalam bidang tarekat, mereka adalah ahli – ahli tashawwuf, yang disela – sela kesibukkan mereka berdakwah dan mengajar, mereka masih menyempatkan diri untuk tenggelam dalam dzikir dan taqarrub demi pemeliharaan dan penigkatan kekuatan ruhaniyah mereka.
  4. Dalam bidang tulisan, mereka adalah para pengarang dan penyusun kitab – kitab besar. Walaupun sudah tersita waktu mereka untuk dakwah, mengajar, dan berdzikir, mereka masih dapat meluangkan waktu untuk menulis berabagai disiplin ilmu agama. Diantara karya–karya besar mereka adalah; Amaniyal Ahbar yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Yusuf Kandhalawi. Kitab ini adalah kitab fiqih bermadzhab Hanafi, empat jilid besar, berjumlah 1456 halaman. Beliau juga menulis kitab – kitab hadits yaitu; Hayatus Sahabah dan Muntakhab Ahadits. Sedangkan Syaikh In’amul Hasan telah menulis kitab Abwabu Muntakhabah min Misykatil Mashabih, yaitu kitab hadits sebanyak dua jilid. Dan Syaikhul Hadits Muhammad Zakariyya juga telah menulis berbagai kitab yang sudah kita kenal kamasyuhurannya.
Dan masih banyak lagi tokoh–tokoh ulama jamaah Tabligh yang lainnya. Hampir rata – rata mereka adalah da’i, Ustadz, ahli dzikir, dan penulis buku. Setidaknya, kebanyakan mereka adalah lulusan pondok pesantren ataupun jamiah – jamiah Islamiyah di negara mereka masing – masing, sebagian mereka bahkan melanjutkannya ke jenjang mufti, Darul hadits dan sebagainya.

Alhamdulillah, dewasa ini perkembangan Jamaah Dakwah dan Tabligh nampak meningkat dengan pesat. Peranan da’i–da’i ulama mulai terasa di setiap markas. Sebagian mereka bahkan menggerakkan santri–santrinya untuk terjun dalam usaha dakwah ini secara rutin, tanpa mengganggu kegiatan mengaji mereka.

Dan selanjutnya, yang sungguh menggembirakan adalah dikirimnya jamaah–jamaah ulama fisabilillah di berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Pengorbanan mereka melebihi orang–orang awam pada umumnya. Diantaranya adalah para lulusan Al – Azhar mesir yang sudah banyak terlibat dengan usaha dakwah dan Tabligh ini. Juga dari Darul Ulum Deuwsbery Inggris, yang ratusan jamaah ulama dikirim khuruj fi sabilillah ke berbagai tempat setiap tahun untuk khuruj fi sabilillah ke berbagai belahan dunia. Dan masih banyak lagi kebangkitan – kebangkitan alim ulama dalam jamaah tabligh.

Setelah kepulangan para ulama tersebut dari khuruj fi sabilillah, maka masyarakat umum di kampung–kampung pun dapat merasakan manfaat dan faedah mereka. Semangat orang–orang awam kepada agama mulai bangkit, sehingga selain banyaknya orang–orang tua yang bertaubat, anak–anak mereka pun mulai berminat untuk mendalami ilmu–ilmu agama dengan belajar di pondok–pondok pesantren, sehingga generasi beragama mulai banyak bermunculan.
Selain itu, juga telah muncul kesediaan Madrasah–madrasah dan pondok–pondok pesantren untuk dijadikan tempat– empat pertemuan dan ijtima’ secara rutin. Baik untuk wilayah desa, kecamatan, provinsi, dan tingkat nasional.

Cukup banyak dari kalangan alim ulama jamaah tabligh yang telah menegaskan mengenai kepentingan ilmu dan ulama dalam nasehat–nasehat mereka ataupun berbagai kitab mereka. Misalnya, Syaikh In’amul hasan telah menulisnya di dalam kitab Abwabu Muntakhobah, Syaikh Muhammad Yusuf juga telah menulis bab ilmu di dalam Hayatus Sahabah dan Muntakhab Ahadits, juga kitab – kitab lainya.

Di dalam kiatab–kitab tersebut, para ulama tabligh telah menuliskan bab khusus mengenai ilmu dan ulama. Mereka mengumpulkan dalil–dalil yang berkenaan dengan kepentingan ilmu dan ulama, kemudian menjelaskannya sebagai bekal untuk diamalkan dan disebarkan oleh da’i–da’i  jamaah Tabligh.

Sebagai missal, mari kita simak bagaimanakah Syaikh Yusuf Al – Kandhalawi menulis tentang kepentingan ilmu di dalam kitabnya; Munthakab Ahadits.

Ayat Al-Quran tentang Ilmu
Allah SWT berfirman : Allah sudah menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab dan Hikmah  dan mengajarkan kepadamu apa yang tidak kauketahui  sebelumnya. Dan karunia Allah kepadamu besar sekali. (QS. An-Nisa 113)

Hadits Nabawi Tentang Ilmu
Usman Ibnu ‘Affan r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda :  Yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an  dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

Abu Sa’id Al-Khudri r.a. meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda : Seorang yang beriman, tidak pernah akan merasa puas dengan mendengar dan menerima pengetahuan yang bermanfaat (ia akan terus mau belajar), sehingga ia mati dan masuk sorga. (HR. Tirmidzi)

Selamanya jamaah tabligh tidak mungkin bersikap anti terhadap ilmu agama. Yang ada hanyalah keterbatasan waktu dan kemampuan untuk mempelajari ilmu–ilmu agama secara khusus. Memang diakui, bahwa sebagian dari jamaah dakwah dan tabligh ini kurang berbekal ilmu, disebabkan latar belakang mereka sebelumnya yang awam dan tidak mempedulikan agama, bahkan ada sebagian mereka yang benar–benar memusuhi agama.

Dan masalah kedua adalah sangat terbatasnya jumlah ahli–ahli ilmu yang mau berkorban mendatangi orang–orang awam ataupun mengiringi jamaah–jamaah dakwah yang sedang bergerak untuk mengajarkan agama kepada mereka.

Kerisauan mengenai hal ini, seringkali diungkapkan oleh Syiakh Muhammad Ilyas dan para musyaikh tabligh lainya. Diantaranya, syaikh Ilyas, berkata, “di dalam kerja Tabligh ini, ilmu dan dzikir mempunyai peranan dan perhatian yang sangat besar. Tanpa ilmu, tidak akan mudah untuk beramal, dan tidak akan mengenal amalan. Dan tanpa dzikir, ilmu akan menjadi kegelapan. Tidak akan dijumpai di dalamnya nur. Namun sayangnya hal ini terasa kurang dalam ahli–ahli dakwah.”

Beliau juga berkata, “Bagiku ilmu dan dzikir seandainya kurang dalam usaha ini adalah satu hambatan. Dan kekurangan ilmu dan dzikir ini adalah disebabkan kurangnya ahli–ahli ilmu dan ahli–ahli dzikir yang turut dalam usaha dakwah ini. Seandainya beliau–beliau para ahli ilmu dan dzikir menyingsingkan lengan mereka untuk kerja ini, maka akan menyempurnakan kerja ini.”
Untuk saat ini, ilmu masih terpenjara dala dua tempat; kitab – kitab agama dan para hati para ulama. Ilmu masih belum tersebar ke tengah masyarakat umum. Hal ini perlu diperbaiki secara bersama– sama.

Ada ungkapan syaikh Ilyas yang mahsyur, bahwa; “ilmu dan dzikir bagi gerakanku ini laksana dua pergelangan tangan. Seperti dua buah sayap. Seandainya satu sayap terlepas, maka burung tentu akan sulit terbang. “beliau juga berkata, “ilmu tanpa dzikir adalah kegelapan dan dzikir tanpa ilmu adalah pintu bagi banyak fitnah.”

Beliau juga berkata, “segala tindak tanduk dan amal perbuatan serta kesungguhan dan pengorbanan kalian akan menjadi rusak apabila kalian tidak ambil perhatian terhadap ilmu agama dan dzikrullah. Bahkan kalian dalam keadaan bahaya yang sangat besar serta besar kemungkinan jika kalian lalaikan kedua hal tadi, maka usaha dan perjuangan kalian akan menjadi pintu–pintu baru bagi fitnah dan kesesatan. Usaha dan perjuangan kalian tidak akan menjadi pintu bagi terbukanya agama. Seandainya ilu tidak dipelajari, maka islam dan iman sekedar adap istiadat saja. Dan seandainya ilmu ada namun tidak disertai dengan dzikrullah maka semua akan mejadi kegelapan.

Oleh karena itu, dalam hal ini jangan sekali–kali melalaikan kepentingan ilmu agama dan dzkir kepada Allah. Sebaliknya selalulah memberikan perhatian khusus terhadap keduanya. Jika tidak, maka usaha tabligh yang anda lakukan ini, sekedar gerakan saja dan Allah akn menunjukkan kerugian yang sangat besar kepada kalian.”

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para masyaikh Tabligh. Mereka menghendaki agar jamaah–jamaah yang dikirim dan jamaah itu hanya berisikan orang–orang awam, hendaknya mereka khuruj disertai setidak–tidaknya oleh orang alim dan seorang Hafizul Quran. Dan dikehendaki juga para ulama agar bersedia meluangkan waktunya untuk mendatangi masyarakat awam. Sebaliknya, dari masyarakat awam dikehendaki agar mereka mendatangi alim ulama untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka.

Untuk mengatasinya, para masyaikh Tabligh sangat menekankan kepentingan ilmu dan mendorong setiap mereka agar belajar ilmu dan mendekati alim ulama. Syaikh Muhammad Ilyas berkata, “kami datang ke suatu tempat, lalu usaha sungguh–sungguh di sana, menjadikan mereka ahli agama, mentawajuhkan orang yang lalai, menghidupkan agama di ahli tempatan dan bagaimana agar orang – orang awam mereka meu ishlah diri mereka dengan mendatangi para ulama dan sholihin. Asal kerja di setiap tempat adalah menjadikan mereka karkun lalu faedah yang terbesar bagi orang awam adalah bila dapat menghubungkan mereka dengan para ahli agama di tempat mereka sendiri. Yang jelas cara kami ini diajarkan kepada setiap orang dimana mereka mau ikut dalm cara ta’lim, menjadikan dirinya berfaedah, dan mengambil faedah dari yang lain. Dan atas hal ini banyak keterbatasan yang ada pada kami.”

Syaikh Abul Hasan Ali An – Nadwi menulis di dalam Sawanih Yusufi; “Salah satu usaha dalam dakwah ini adalah menjadikan dakwah sebagai cara untuk mendatangkan orang awam kepada ulama, dan mewujudkan kerisauan ulama pada diri orang awam. Dan orang awam dapat memahami derajat ketinggian ulama, sehingga orang awam senantiasa mengambil manfaat dari para ulama. Sesuai dengan aturan dan penegasan atas hal ini, dianjurkan agar senantiasa berkhidmat kepada alim ulama.”

Dan semua itu, tentu tidak mungkin dilakukan oleh orang–orang yang membenci ilmu dan ulama. Bagaimana mungkin?

Kata-Kata

Dunia dan Agama (Akhirat) adalah seperti Matahari dan bayangan kita. Bila diibaratkan Matahari adalah Agama (Akhirat) dan bayanag diri kita adalah dunia, apabila kita berdiri mengahadap matahari maka dunia akan di belakang kita dan akan mengkuti kita selama kita berjalan menuju akhirat dan semakin kita berlari ke Akhirat maka dunia juga berlari mengejar kita. Tapi apabila kita berdiri membelakangi Agama (akhirat), maka dunia akan di depan kita dan kita akan selalu mengejar dunia yg tdk akan dapat kita raih karena selalu di depan kita, semakin kita berlari mengejar bayangan/ dunia, maka semakin berlari juga bayangan/ dunia meninggalkan kita dan matahari atau akhirat akan jauh dari kita. Maka barangsiapa yg mengejar dunia maka Akhirat akan tertinggal dan dunia pun tak akan dicapai, tapi barangsiapa mengejar akhirat, maka Inshalloh Akhirat didapat dan dunia pun akan mendatangi kita....Pilih mana??!!!


Ada tukang madu keliling...teriak: "Madu Palsu..madu palsu...." apa yah ada yg beli?? atau kita yg mau beli?? udah tahu palsu masa' mau dibeli juga?
Alloh SWT sendiri yg ciptakan dunia ini...dan Alloh SWT juga yg katakan bahwa dunia ini palsu..dunia ini penuh tipu daya...tapi kok banyak yg suka yaahh?? berebut pula'....pak..pak...dunia ini kecil..sudah kecil palsu pula'..Indonesia yg kecil begini ajah diperebutkan..nanti setiap orang yg berIman walaupun sebesar biji zahroh (debu) akan dikasih surga yg luasnya 10 kali dunia ini...masih mau berebut???


MENGELUARKAN CINTA DUNIA
Seseorang bertanya kepadaku, "Bagaimana cara mengeluarkan cinta dunia dari dalam hati?". Aku jelaskan kepadanya, "Perhatikanlah setiap perpindahan dunia itu dari satu tangan ke tangan lainnya. Dia berhasil untuk menghalangi dan membuat lupa para pemiliknya. Pada awalnya dunia akan mengangkat derajad pemiliknya dari orang lain, sehingga membuat dia disanjung dan dipuja. Saat ia terlena dengan kedudukan dan tarap hidupnya, tiba-tiba dunia menjerat dan menjatuhkannya, mereka diperdaya oleh dunia sehingga menghancurkannya. Dunia hanya tertawa, iblis pun ikut menyeringai tawanya. Demikianlah dunia memperlakukan orang kaya, para penguasa dan raja-raja, sejak zaman Adam hingga hari kiamat kelak. (Syaikh Abdul Qadir Jailani)


Bismillah..
Assalamu’alaikum wr.wb..!

Bila kita bicara tentang cinta kepada ALLAH SWT cinta kepada NABI SAW,terlalu sakral untuk manusia biasa, sebab cinta pada manusia saja kita sering berdusta,tidak pasrah dan tidak saling menyayangi dengan tulus……apalagi yang gaib sifatnya….!
ALLAH SWT tidak kita lihat,tetapi kita rasakan…….!!

Bila seseorang mengatakan ataupun menulis di FB ini,mencintai ALLAH dan RASULLNYA dia harus bertanggung jawab dengan kata-kata yang diucapkanya…!

“Sudah bisakah kamu istinja yang bersih untuk jasadmu…!
“Sudah bisakah kamu jujur pada lidahmu….!
“Sudah bisakah kamu pasrah dengan jantungmu…..!
“Sudah bisakah kamu menyayangi dengan tulus pada hatimu….!
“Sudah bisakah kamu masuk dalam kaum orang2 bersyukur…!
“Sudah bisakah kamu bersedekah serta hidup tanpa mengeluh….!
“Sudahkah kamu takut tentang hari pembalasan……!
“Sudah bisakah kamu mencakrawalai hidupmu damai…….?

Kalau semua shifat2 itu ada pada dirimu,insyaALLAH kamu akan merasakan-
Cinta ALLAH SWT karena kamu telah mampu menjaga indra-indra ALLAH SWT yang begitu sempurna pada dirimu....!!!
Jangan bicara langit kalo amalan tempe..!!!!!! maaf berkesan munafik..!!


Ketika salah satu jari kita di tangan yg sebelah kiri terkena pisau, maka otak kita selain mengirimkan rasa sakit pd jari yg teriris tersebut, juga mengirimkan perintah kepada mata untuk mencari pelester, dan memberikan perintah kepada tangan yg satu lagi untuk membalut pada tangan yg terluka setelah menemukan pembalut, dan apabila tdk bisa membalut sendiri maka si otak memerintahkan mulut untuk memanggil seseorang untuk dimintai pertolongan membalut tangan yg luka tersebut. Begitulah seharusnya kita ini kepada sodara kita yg se Iman, apabila ada kesusahan maka seharusnya kita membantunya, juga ketika kita melihat sodara kita yg melakukan kemaksiatan maka kita seharusnya mencegahnya. Tidak sempurna Iman seseorang apabila belum mencintai dan mengasihi sodaranya yg se Iman....Bagaimanakah sikap kita ketika melihat sodara kita yg melakukan maksiat kepada Alloh SWT? seharusnya dengan kelembutan kita ajak mereka ke Jalan Alloh SWT, bukan mencacinya...